Jumat, 17 Agustus 2012

NO BODY PERFECT By : Khairunnisa Sana

FARES 2010... Sebuah memori yang menjadikan diriku lebih dewasa dari sebelumnya. Berbagai macam kejadian pahit dan mabis datang siligh berganti. Tahun itu, ambisiku untuk menjadi aktif di segala bidang memuncak. Mengingat statusku yang akan berubah di tahun berikutnya. Acara demi acara kuikuti sekedar ingin happy menjalani hdidup di pondok ini. Sampai di rentetan acara akhir tahun. Satu acara yang menjadi impanku dan sebagai pembuktian pada mereka bahwa au tak seburuk apa yang mereka pikirkan. Ialah Queen of Language babak I, II, III, hingga babak semifinal. Dan disaat itulah kegagala menghampiriku. Tak terasa air mengalir wlalu sedikit dan tak terlihat. Tapi di saat itulah harapan lain muncul. Aku harus balas dendanm di acara lain. Hingga tiba saat ujian untuk pemilihan tim khusus FSS untuk perlombaan FSI antarpondokcabang. Alhamdulillah aku menjadi salah satu anggotanya tanpa mengikuti babak II. Sempat minder. Karena anggotanya kebanyakan dari MALDA., GILDA, dan seabrek pangkat lainnya. But, just take it easy...Akan tetapi, acara itu dibatalkan karena ketidakhadiran utusan dari pondok cabang. Dan jadilah kami panitia prematur, karena panitia sungguhan itu dari kelas 6. Waktu terus berlalu dan sapailah pada acara Duta Gudep. Aku sudah mulai malas mengikutinya dikarenakan berbagai hal. Tanpa disangka, aku masuk untuk mengikuti babak II dari acara ini. An lebiah mengejutkan lagi akulah yang menjadi perwakilan gudep . Tapi ketika hari itu tiba, tubuhku yang kurang fit dan perut yang tidak diisi dari pagi tak mendukungku saat menhadapi babak tersebut. Akhirnya hilangkan kesadaranku ketika aku sedang berdiri. Perasaan bersalah terhadap semua orang menyelimutuku dengan kuat. NO BODY PERFECT... Itulah kata yang pas untuk seluruh umat manusia. Tapi semua kenangan-kengangan itu telah merubah kehidupanku untuk menjadi lebih baik. Disitulah aku benar-benar mempercayai dan meyakini akan tawakkal dan kekuatan do’a yang selalu menemani kehidupanku hingga deri ini. UNFORGETABLE MEMORIES...

Kebersamaan Itu Indah By. Halida Umami

Masuk pondok dari jalur biasa tentu memiliki banyak momen yang trelupakan, janji yang terucap, dan pelajaran yang tak tergantikan. Apalagi kesempatan untuk menjadi Bagian Keamanan di rayon. Seorang pengurus yang tentu notabene harus dapat menyayangi serta mengayomi adik-adiknya. Waktu itu berputar cepat bagiku. Sebuah panggilan lewat Bagian Penerangan memanggilku ke kantor Pengasuhan dengan sederet nama lain. Beribu-ribu pertanyaan menghampiri. Ada apa ini? Setibanya di kantor pengasuhan aku disodori selembar kertas yang berisikan angket riwayat hidup. Aku mengisinya dengan penuh ketelitian. Untuk apa semua ini? Sore menjelang. Kedatangan keduaku ke kantor Pengasuhan pada hari itu memang sungguh tak terlupakan. Salah seorang staf pengasuhan menyodorkanku kembali dengan sebuah kertas. Bukan angket yang sama seperti sebelumnya, tapi sebuah surat pengesahan pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM). Aku menerimanya dengan berbagai macam rasa sedih, bingung, takut, dan takjub. Aku diberi kesempatan untuk menjadi kader Pengurus OPPM di kelas lima bersama empat temanku yang lain dan aku di Bagian Penerimaan tamu (BAPENTA). Syukur tentunya setelah itu kami panjatkan. Untuk menjadi yang terbaik atas amanah ini. Walau takut kadang juga tak bosan menyelimuti. Aku harus menjaga diri. Tentunya sebagai seorang kader aku harus pintar-pintar menjaga sikap di depan kakak-kakakku agar aku mendapat kenyamanan yang sekejap semu. Setiap hari aku selalu bertanya pada seniorku tentang pekerjaan dan besarnya tanggung jawab yang dipikul oleh seorang Bagian Penerimaan Tamu. Karena aku pun yang akan memberitahukan tentang segalanya tentang bagian ini pada teman-temanku kelak. Lantunan doa tak pernah lepas dariku yang mengharap dapat melalui semua tantangan dengan sukses. Hingga sampai di ujung perjuangan dan penantian. Air mata tak kuasa terbendung. Aku akan berpisah dengan kakak-kakak sebelumku dan akan memulai perjuangan kembali bersama teman-temanku nanti. Aku yang akan memegang bagian ini. Berhasil tidaknya bagian ini nantinya tentu ada di tanganku. Kekurangan tahun lalu dapat kuketahui dan kutambal di tahun perjuanganku di tahun berikutnya. Tetesan air mata tak kunjung usai. Ada rasa takut yang menemani. Aku takut tak dapat menjadi sosok ketu yang ideal bagi teman-temanku kelak. Meski dengan segala keterbatasan yang kumiliki, aku selalu memotivasikan diri untuk kemajuan organisasi. Hanya dua harapanku saat itu. Pertama, untuk dapat menciptakan kebersamaan yang indah bersama teman-teman rekan kerjaku dan yang kedua adalah dapat menjadi dicintai oleh pembimbing. Kepercayaan itu seberapa besarnya harus dijaga. Karena akan susah mengembalikan dan mendapatkan kepercayaan itu. Bulan demi bulan pun kami lalui bersama. Bnyak pelajaran yang dapat kuambil. Tentang leadership, kekompakan, dan kebersamaan dalam suatu tim untuk mensukseskan suatu pekerjaan. Itulah pengasah diri untuk menjadi dewasa.

Keberhasilan yang Tertunda By. Inayatul Maula

Hatiku berdebar kencang dan denyut jantung ini semakin cepat tak terkendali. Betapa senangnya aku ketika namaku disebut sebagai tiga besar peserta Musabaqotu-l-Hifdzi-l-Qur’an (MHQ) dua juz pada tahun ini. Setelah lima tahun lamanya aku berjuang untuk berpatisipasi dalam acara ini. Bukan untuk takabbur, sombong ataupun riya, tetapi aku hanya ingin membuktikan kepada orang tuaku bahwa apa yang telah mereka berikan dan ajarkan padaku tidak sia-sia. Lima tahun bukanlah jangka waktu yang pendek untuk terus bersabar dan berusaha mencapai sebuah mimpi. Dimulai dari kelas satu. Aku yang belum mengerti apapun tentang segala sesuatu di pondok ini, memberanikan diri untuk mendaftar sebagai peserta MHQ. Walau hanya satu juz. Semua hanya terlewat begitu saja. Cita-cita belaka tanpa ada suatu tanda akan masuknya aku ke babak selanjutnya. Keningku mengerut dan rasa kecewa mulai tumbuh. Hati ini bertanya-tanya. Sepertinya aku dapat menghafal dengan baik di tes tadi, tapi mengapa aku tak dapat lolos babak selanjutnya? Dengan modal ikhlas, semua ini tak mematahkan semangatku tuk terus menghafal Al-Qur’an lillahi ta’ala. Satu tahun kemudian, aku mendengar informasi tentang MHQ. Tanpa fikir panjang kulangkahkan kaki ini menuju gedung Bosnia kamar 101 untuk mendaftarkan diri dengan modal yang pas-pasan. Dua juz. Do’a dan usaha tak lepas dari gerak-gerikku. Hingga sampailah aku di babak terakhir. MHQ dua juz denga enam peserta yang akan diambil tiga besar untuk maju ke panggung di babak final. Subhanallah. Hatiku terhentak dan jiwaku tersentak ketika mengetahui salah seorang dari lima peserta selain diriku adalah orang yang telah memiliki nama di pondok ini. Ketua rayon Yaman 2008 yang selanjutnya menjadi ketua OPPM 2008. Harapanku mulai menciut. Juga para peserta lain yang merupakan alumni dari Muqoddasah. Pondok asuhan kyai Hasan Abdullah Sahal selain Gontor yang merupakan pondok tahfidz. Ditambah lagi seorang penguji yang merupakan wali kelasku. Harapan itu makin meleleh karena rasa pesimis yang menyelubungi. Disertai rasa grogi dan persiapan yang kurang matang, aku terbata-bata dalam menghafal Al-Qur’an ketika babak terakhir ini kuhadapi. Ya Allah... cobaan apa lagi ini? Hingga akhirnya terpanggilah tiga besar peserta yang akan menuju babak final. Air mata ini terteteskan ketika namaku tak terpanggil di antara mereka. Tapi aku sadar bahwa ini bukanlah akhir dari perjuanganku. Ini pula bukanlah tujuan utamaku. Tetap segalanya lillahi ta’ala. Seperti tahun-tahun sebelumnya MHQ selalu diadakan. Ketika aku duduk di kelas tiga, tanpa ragu aku ikuti MHQ babak pertama. Meski rasa putus asa kini sedikit menyentuh, yang mengakibatkan namaku tercoreng untuk ketiga kalinya dalam babak semifinal. Tahun berikutnya saat aku duduk di kelas empat. Begitu banyak acara dan kegiatan pondok yang harus kuikuti. Ditambah berbagai kompetisi yang semakin semarak diikuti oleh santriwati kelas empat dan tiga intensif. Berbagai kompetisi yang diadakan telah kuikuti. Meski harus terpeleset di tengah pertempuran. Hingga datanglah kompetisi terakhir yang dapat kuikuti. Apalagi kalau bukan MHQ. Denagn tekad yang kuat dan niat yang bulat, aku berjanji untuk memenangkan kompetisi tersebut. Babak demi babak telah kulewati. Hingga babak terakhir sebelum menuju final. Aku masih tetap berdiri tegap dan optimis. Aku bisa! Beberapa hari kemudian terdengar olehku kabar yang menusuk hati. Betapa perihnya perasaan ini hingga kelopak mata tak dapat membendung air mata yang memaksa keluar dengan sendirinya. Aku mencoba untuk selalu optimis bahwa Allah sepertinya memiliki kehendak lain atas segala kejadian yang menimpaku. Ia memang akan memberikan apa yang kubutuhkan, tapi bukan apa yang kuinginkan. Sepertinya kesedihan itu belum juga ingin pergi dari diriku. Air mata tetap menetes bahkan saat para finalis maju di atas panggung. Hingga akhirnya perasaan itu hilang di tahun berikutnya. Ketika Ustadz Suharto memberikan piala padaku. Piala MHQ juara dua. Wali kelasku saat kelas lima menyampirkan medali MHQ ke pundakku. Semua usaha dan doaku terjawab oleh-Nya. Aku baru mengetahui tentang rumus rahasia terkabulkannya do’a. • Allah akan mengabulkannya langsung • Do’a yang ditunda pengabulannya • Allah akan mengganti do’a kita dengan yang lebih baik Terimakasih Allah..... Atas apa yang telah Kau berikan padaku. Terimakasih Gontor..... Telah memberikanku banyak pelajaran yang berharga.

Janganlah Berubah! By. Syamsiyah Iis

8 Februari 2010 Dear Diary...... Sepertinya sudah lama sekali aku, Biela, Lisya, dan Fitri tidak bisa bersama kembali. Ya, karena kegiatan kami yang bertolak belakang sehingga merenggangkan tali persahabatan ini. Fitri yang sedang sibuk di gudepnya, Liesya dengan ‘iqob-‘iqobnya, dan Biela di stafnya, sedangkan aku Cuma bisa menatapi mereka dari kejauhan. Alhamdulillah..... petang ini kami menyaksikan kebesaran Allah. Sunset yang begitu indah membawa lamunanku terbang bersamanya. Hmmmph.... terlihat jelas bayangan saat kami bersama. Kami memang sahabat. Berteman baik sejak kelas dua. Kami selalu bersama karena kami ingin menjaga tali persaudaraan ini. Walau kami memiliki kegiatan masing-masing. But, I love you all! 12 Februari 2010 “Many blessing return of the day, Warda!” sorak Biela, Lisya, dan Fitri. Mereka bisa ingat hari ini adalah hari terindah bagiku. Mereka memang sahabat terbaikku! Bahagianya bisa berteman dengan mereka. Thank’s God!!!! 14 Februari 2010_21.45 Malam ini aku kaget melihat Dita di kamar Lisya untuk kesekian kalinya . aku menatapnya dengan sinis, tapi dia membalasnya dengan senyuman sok kenal. Huh!!!!! Bila ingat cerita Fitri dan Biela tentang Dita, aku geram sendiri! Dita tak sebaik yang dikira. Lisya melupakan persahabatan kami karena Dita. Lisya pun membohongi kami karena Dita. Lisya berubah semenjak kenal Dita. Bukan berarti kami posesif dan membatasi pertemanan kepada siapapun, hanay saja kelakuan Lisya berubah buruk semenjak berteman dengan Dita. 17 Februari 2010 Dear Diary...... Aku kasihan dengan Lisya, tapi bagaimana lagi? Hmmmm...... sepulang dari syirkah tadi Lisya menyapa kami bertiga. Kami hanya menatapnya dengan sinis dan lirikan tajam. Bukan kali ini saja kami abaikan sapaan darinya, tapi setiap kali dia menyapa kami selalu kami abaikan. Sebenarnya kami tak mau diam-diaman tanpa sebab. Kami harap dengan ini dia bisa lebih dewasa dengan berinterospeksi diri. Jahatkah kami???? 19 Februari 2010 Fiuh.... belajar malam kali ini membuatku lelah. Kurenggangkan persendianku dan yang ada di sampingku hanyalah kamu. Ehm.... tadi Lisya datang ke kamar dengan mata berkaca-kaca. Sepertinya dia mau cerita sesuatu. Anehnya, dia langsung keluar. Mungkin karena melihat wajahku yang galau dia langsung pergi. Ya Allah! Aku tak ega melihatnya dalam kesedihan. Mendiamkannya tanpa sebab. Aku harus menceritakannya pada Biela dan Fitri. Sepertinya kita haru sharing! 25 Februari 2010

IKHLASKANLAH SEMUANYA... By : Dhita Ayomi

Cerita kali ini sungguh bukan tentangku.Tapi tentang seorang teman yang sepertinya patut kutulis bila ia tak segera memulai untuk menulis. Bagiku ini penting, banyak pelajaran yang kuambil tentang makna tawakkal dan makna kesabaran tiada batas. Mungkin permulaan cerita bisa dimulai dari kamar itu. Saat akhirnya mimpi untuk menjadi bagian diskusi bahkan posisi ketua membuatku harus masuk kamar tersebut. Terlalu penuh keceriaan dan kebahagiaan. WE ARE FAMILY. Bukan hanya sekedar bagianku. Tapi bagian lain yang menempati kamar itu. Bersamaan dalam menentukan firqoh kelas enam untuk kelompok diskusi dan pembimbing pidato. Ya, bagian pengajaran. Dia bukan seorang ketua ataupun seorang khotibah ulung apalagi seorang qori’ah. Tak ada yang menyangka ia akan menjadi seorang bagian pengajaran. Yang ia prediksikan dulu adalah bagian bahasa. Karena ia yang seorang Queen of Language walau hanya mendapat peringkat enam. Tujuh bulan dilalui dengan penuh khidmat. Bisa jadi ia termasuk bagian pengajaran yang disegani. Mengingat eksistensinya dalam bekerja. Panggung Gembira, memberikanku kesempatan yang lebih untuk mengenalnya sebagai penanggungjawab bagian intermezo, kami melakukan aksi menembus batas. Dimulai dari wayang yang membuatku harus medok untuk beberapa saat karena melatih Dewi Durga, mengejar ustadz DC untuk sekedar pengambilan gambar air mineral La-Tansa. Juga beberapa lagu yang berhasil kami lip sinG-kan walau semua itu ternyata tak mendapat kesempatan tayang di acara akbar kami. Biarlah, setidaknya kami memiliki pelajaran berharga. Ia pun telah merasakan hal yang sama ketika di Drama Arena. Sakit hati? Tentu saja. Ia hanya dapat tersenyum tanpa menitikkan air mata. Walau guratan wajah serta beberpa titik air telah menggenang di pelupuknya. Sebelum itu, ia sudah memakai kerudung pelAnggaran sebanyak dua kali semenjak di bagian pengajaran. KeruDung merah karena apesnya ia menaruh soal ujian sore di keranjang sepeda bututnya, siap dikumpulkan dan ia parkirkan sepedanya di depan kamar ustadzah pembimbng. Siapa yang sangka? Ternyata justru ‘kertas keramat itu’terbca oleh saah seorang murid yang ditujukan soal itu. Apes. Hingga ia pernah berkata padaku di suatu malam, “Apa Tuhan berpihak padaku? Selalu begini, dulu pun begitu, sekarang juga begitu. Apa salahku?” Aku hanya dapat terdiam, tak bisa untuk menjadi sok bijak untuk sebuah pertanyaan tentang Tuhan. Biarkan ia menangis, mungkin lebih baik. Setidaknya melalui air mata ia dapat melelehkan segala kesedihannya. Saat Panggung Gembira, memang bertepatan dengan KMD, dan ia menjadi seorang ketua panitianya. Dengan merendah, ia berkata padaku dipertengahan Ramadhan ketika ia dinobatkan, “Padahal dulu waktu panitia KML, aku hanya jadi ummul maktab dan hanya hujan-hujanan menyelamatkan api unggun, kok bisa jadi panitia ketua KMD?” Bagiku itu semua bukan kebetulan. Terbukti ia dapt memimpin kami dengan baik. Sampai di suatu Jum’at dan anggota kamar melakukan ‘ritual Jum’at bersama’ -tidur. Karena ini satu-satunya hari yang dapat kami gunakan untuk istirahat. Aku terbangun oleh suara buku yang dijatuhkan dan ia baru saja pulang karena dinobatkan sebagai Tim Dinamisator. “Kenapa?”, tanyaku. Ia hanya menggeleng dan menutupi mukanya dengan bantal. Iseng aku membuka buku yang selalu ia bawa itu. Tulisan tangan tak lebih dari satu halaman yang memberitakan bahwa ia menjadi ketua dinamisator. Seperti biasa, aku tulis ucapan selamatku dan beberapa wejangan dengan pulpen warna abu-abuku yang baru. Reformasi memisahkan segalanya... Sebelumnya kami memesan agenda berwarna biru donker dan mengecat kamar menjadi warna hijau dengan kupu-kupu yang belum sempat kubuat. Ia pindah bagian menjadi Bagian Bahasa pusat. Setelah perpindahan kamar reformasi, kuselesaikan kupu-kupu itu dengan ia menghadap pintu seakan-akan keluar dari kamar kami. Mungkin sebenarnya itulah dunia yang harus ia miliki. Meski ia tak pernah mengerti, tapi itu adalah pembuktian dan pencapaian atas cibiran orang dulu setelah ia memakai kerudung pelanggaran dan kata-kata senior yang selalu membandingkannya dengan sang kakak. Tanpa ia sadari, sesungguhnya segala kesabarannya itu yang membuat ia justru dapat melebihi sang kakak. Percayalah engkau wahai teman yang terlahir menjadi tangguh!

HALUAN MIMPI By : Dhita Ayomi

Kabur dari PERKAJUM. Mungkin ini adalah ide paling nekat yang pernah terlintas dari pikiranku. Hanya untuk mebuat MADING marhalah yang ternyata juga tak menang. Itu yang saat kelas enam kusadari sebagai ‘don’t give too much for the whistle’ karena hukuman dari kabur PERKAJUM bukan sekedar boking dari Sie. Giat berupa sampah, ataupun ratusan redaksi marah dari mudarribat itu. Aku harus mengikuti PERKAJUM gelombang selanjutnya yang diadakan khusus untuk andika yang sama nekat atau kebiasaan kabur dari PERKAJUM. Aku dan seorang teman bersama kakak-kakak kelasku yang sebagian besar atau semua tak menyelesaikan program belajar di KMI hingga akhir. Dari yang dipulangkan secra baik-baik, diusir, atau juga karena pulang atas dasar keinginan sendiri. Sejauh ini, aku sendiri sudah tak melihat mereka. Bisa dibilang, untuk kategori kenakalan mereka termasuk dalam taraf agak sampai paling parah. Dan aku diantara mereka. PERKAJUM itu diadakan hari Jum’at pagi hingga Maghrib. Berlari menuju auditorium. Selusin ANKULAT telah menunggu di kanovi auditorium. Memberdirikan kami sejajar untuk memeriksa kelengkapan. Hasduk, ransel, kaos kaki hitam, dan atribut yang terjehit di lengan baju. Aku hanya dapat tertunduk lemas. Satu per satu kami dipasangkan boking berupa rumbai di tepian kerudung hingga terkadang menutupi pemandangan. Papan nama besar dari kardu yang bertuliskn kata pelanggar berikut nama, kelas dan konsulat. Kami dibagi menjadi tiga kavling. Mendirikan tenda yang awut-awutan mengingat mayoritas dari kami mungkin tidak pernah mengikuti pramuka. Aku yang saat itu sendiri, memberikan instruksi pada kakak-kakak yang satu kavling denganku tentang pemasangan tenda. Aku hanya dapat merengut. Cross campus yang tentu lain dari biasanya karena langsung dibimbing oleh koordinator. Keluar dari pondok melalui jembatan penghubung menuju Gontor Putri 2. Dari sanalah petualangan dimulai. Menyusuri comberan kamar mandi Iskandaria, jalan terus masuk ke dalam got di depan Beirut yang sedikit berkubang dan masuk ke bawah jembatan kecil sebelah kantor YPPWPM. Bukan masalah buat tenda ataupun masuk got juga comberan yang membuatku mempersalahkan saat itu. Tapi rasa malu dan nama baikku yang tercoreng ketika aku harus berjalan dengan papan nama bertitel pelanggar. Separah itukah aku? Atau sebegitu sayangnyakah aku pada mading dan marhalah hingga nekat kabur dari PERKAJUM? Entahlah... Mungkin hanya tenda, tailor, dan Mini Market La Tansa yang tahu bagaimana mimikku saat itu. Saat cross campus di pematang sawah aku berjalan. Melihat hina pada diri sendiri. Karena harus dipermalukan saat itu. Lalu aku berjanji atas nama tunas kelapa, aku yang telah dipermalukan, maka aku harus mengembalikan nama baikku dengan menjadi Duta Gudep. Mungkin? Ya, menjadi Duta Gudep! Itulah ambisiku saat kelas tiga. Selesai PERKAJUM, kami diberi banyak sekali wejangan dari sang empunya urusan pelatihan pramuka di Gontor Putri. Untuk tidak nakal dan selalu taat peraturan. Untuk tidak sembunyi saat pramuka dan tertidur di out bound, di kelas, ataupun gudang. Mencoba peruntungan di Duta Gudep. Akhirnya aku lolos babak pertama dan masuk pada babak selanjutnya. Di gelombang kedua inilah yang akan menentukan duta dari gudep masing-masing. Aku semakin optimis dapat mengembalikan nama baik itu. Ya, aku bisa! Seorang ANKULAT yang ternyata turun di kamarku dan kini ia sedang melanjutkan studinya di Mesir, berkata dengan nada heran, “Anti yang ikut PERKAJUM gelombang tiga kemaren kan? Masuk Duta gudep?” Ternyata Tuhan memang memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Stres? Mungkin saja. Aku ternyata tak dapat mengambil kesempatan itu. Tidak menjadi DG di kelas tiga lalu membuat mimpi baru dengan haluan yang drastis. Aku menghapus mimpi menjadi DKK di kelas empat agar dapat menjadi Duta Gudep, aku akan mengikuti ujian MALDA dan menjadi DG di tahun depannya. Lambaian tangan mantap pada mimpi menjadi DKK. Saat menjadi MALDA dan menjalaninya, aku benar-benar menyadari bahwa ini duniaku. Aku kembali teringat akan mimpiku sejak aku duduk di kelas 5 SD. Membuang segala egoisku untuk menjadi seorang wartawan. Aku bersyukur, mungkin ini jalan yang Tuhan pilihkan untukku. Karena kurasa, bahwa ini adalah sebuah pilihan yang tepat, bukan karena muthor. Dulu keinginan untuk menjadi DG adalah sebagai pembersihan nama baik. Lalu saat itu tiba..DG...mungkin karena aku yang saat itu sakit-sakitan atau karena ku yang tak begitu mengenal bindep baru itu? Bahkan gelombang I pun aku tak masuk yang tak lama setelah itu aku tahu bahwa dalil karena tidak masuknya itu karena aku yang kurang terjun ke gudep. Lalu apa yang aku lakukan dari kelasa satu dulu? Aku merasa dipermainkan oleh gerakan berlambang tunas kelapa ini. Sedih? Tentu saja. TBC alias Tekanan Batin Continue melandaku bahkan saat LPK hingga menjadi mudarribat . Sebelum aku masuk pondok aku berpikir bahwa pramuka adalah sebagian dari hidupku. Aku merenung... Mungkin karena itu pula aku telah mantap menemukan sesuatu yang jauh lebih aku bisa dan aku sukai dari pramuka. Jurnalistik dan tentu saja menulis. Dimulai dari MALDA, berlanjut ke Bagian Diskusi kemudian CAKRAWALA. Menulis bukan hanya menjadi sebuah bagian, tapi segalanya bagi hidupku. Aku tak pernah menyesal tentang kabur PERKAJUM dulu. Mungkin saja itu sebuah permulaan agar aku dapat mendalami jurnalistik hingga saat ini. Terima Kasih... Telah memantapkan relung jiwaku... Syanggit, 20 Juni 2012 05.50 WIB

EGYPT..... I COME! By . Lathifah

Kejadian itu tepatnya dua tahun yang lalu. Ketika aku kelas tiga intensif. Saat beberapa kandidat terpilih dan terpanggill ke kantor KMI untuk interview sebagai calon perwakilan Gontor untuk studi banding ke Mesir. Sebuah negeri impianku. Negeri besar yang terkenal karena universitas Al-Azharnya. Yang telah terbukti telah mengeluarkan alumni-alumninya yang hebat. Negeri itulah yang menjadi salah satu list negara impian dalam hidupku setelah Mekkah. Sedih rasanya nama ini tak masuk di antara mereka. Tapi ya sudahlah, mungkin ini bukan rezekiku. Aku hampir melupakan kesedihan itu. Hingga selang beberapa hari aku mendengar kabar telah dibuka pendaftaran sebagai peserta studi banding dengan biaya sendiri. Aku fikir ini kesempatan untukku, tapi dua puluh juta? Akankah orang tuaku menyanggupinya? Dengan bermodalkan nekat tanpa banyak berharap, aku menelepon orang tuaku dan menceritakan maksud dan tujuanku menelepon mereka. Tak lupa menyebutkan total biaya yang dibutuhkan. Sekali lagi aku tak banyak berharap. Ayahku pun berkata, “Dua puluh juta ya, teh? Tahun depan masih ada? Sekarang kebetulan lagi nggak ada uang.” Aku hanya dapat menghela nafas panjang. Tak mungkin pula aku memaksakan keinginanku. Sekali lagi ini bukan rezekiku untuk pergi ke sana. Keesokan harinya yang bertepatan dengan hari pertama ujian lisan awal tahun. Hari itu aku mendapat giliran masuk ujian nomor dua. Pagi sekali aku mendapatkan telepon dari rumah. Telepon???? Tak biasanya aku ditelepon. Aku pun langsung menuju ke tempat penerimaan telepon yang terletak di gedung Bosnia bawah. “Halo Mamah.....” “Halo, teh. Gimana? Jadi mau ke Mesir?” tanya Mamah. Dengan pelan aku menjawab, “Ya, kalau ada uangnya mau. Tapi kalau nggak ada ya nggak usah, Mah.” Saat itu aku masih belum bisa percaya dengan apa yang dikatakan orang tuaku. Benarkah ini? “Emangnya ada uangnya, Mah?” “Alhamdulillah.... mamah dapat uang sertifikasi dan baru cair.” Mendengar jawaban Mama layaknya hatiku itu sebuah kebun, lalu segera ditumbuhi oleh beraneka bunga dan kupu-kupu tak kuasa untuk menemani bunga mewarnai taman. Sepertinya ini jawaban baik. “Memang uangnya berapa, Ma?” tanyaku. “Dua puluh juta. “jawab Mama singkat. “Nggak apa-apa kalau teh Ipah pakai?” tanyaku. “Nggak apa-apa, teh. Insya Allah rezeki nggak akan kemana. Mumpung ada rezeki dan kesempatan. Daftar aja ya ke ustadzah.” Ya Allah... benarkah ini? Subhanallah..... Engaku Maha Penyayag dan Maha mengabulkan setiap do’a hambanya. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menuju kantor KMI dan mendaftarkan diri ke ustadzah. Hari ini merupakan hari yang menakjubkan dalam hidupku. Aku semakin menyadari betap besarnya rasa kasih sayang orang tuaku. Uang dua puluh juta yang didapatkan ibuku dengan susah payah ia relakan padaku. Hanya untuk keinginanku dapat terbang menuju Mesir. Ya Allah.... aku masih juga menitikkan air mata jika mengingatnya. Sejak saat itu keinginanku untuk pulang dari pondok ini terhapuskan. Orang tuaku telah memberi segalanya terhadapku, sedangkan aku? Apa yang telah aku berikan pada mereka? Tuhan.... izinkanlah aku untuk bahagiakan mereka walau di penghujung hidupku.